3 Teori Terbentuknya Alam Semesta Terpopuler, Mana Paling Logis?
Sejak lama, para ilmuwan telah menggagas beberapa teori terbentuknya alam semesta. Sebuah usaha untuk menjawab teka-teki bagaimana sebenarnya awal mula alam semesta terbentuk.
Pernahkan terlintas di benakmu bagaimana sebenarnya alam semesta ini terbentuk? Alam semesta dengan segala fenomena ajaib di dalamnya tentu tidak muncul begitu saja. Persoalan ini sudah menggelitik rasa ingin tahu para ilmuwan sejak dahulu. Berbagai teori pun bermunculan untuk menjelaskan proses terbentuknya alam semesta. Para ilmuwan berlomba memaparkan gagasan yang dirasa paling logis. Mulai dari Hubble yang mengembangkan teori dentuman besar, Thomas Gold dengan teori keadaan tetap, serta Hoyle yang mengemukakan teori osilasi. Menarik, ya? Untuk lebih jelasnya, yuk, simak 3 teori terbentuknya alam semesta paling populer di dunia sains berikut ini.
Teori Dentuman Besar
Beberapa ilmuwan berusaha memahami terbentuknya alam semesta melalui teori dentuman besar. Teori ini juga dikenal dengan sebutan big bang theory. Teori big bang pertama kali dicetuskan pada 1922 oleh seorang ilmuwan asal Rusia, Alexander Friedman. Kemudian, dalam perkembangannya, ilmuwan Amerika, Edwin Hubble, mengembangkan kelanjutan teori ini sekitar 1927. Kala itu, Hubble mengamati pergerakan galaksi-galaksi yang terus saling menjauh dan menemukan hubungan antara jarak galaksi.
Melansir dari space.com, secara garis besar, teori big bang menyatakan bahwa alam semesta terjadi karena ledakan dahsyat dari sebuah gumpalan super atom. Gumpalan super atom ini memiliki panas, massa, dan massa jenis yang sangat besar. Akibat dari ledakan tersebut terus bergerak menyebar dan membentuk galaksi, planet, serta lain-lain yang mengisi alam semesta. Efek ledakan juga menciptakan ruang dan waktu.
Teori Keadaan Tetap
Salah satu teori terbentuknya alam semesta yang pernah populer adalah teori keadaan tetap (steady state theory). Sir Hermann Bondi, Thomas Gold, dan Sir Fred Hoyle mencetuskan teori ini sekitar 1948 dengan mengacu pada prinsip kosmologi sempurna.
Inti dari teori keadaan tetap adalah penekanan pada alam semesta yang kondisinya akan selalu sama. Alam semesta tidak ada awalnya dan sampai kapan pun tidak akan berakhir. Menurut teori ini, usia dan luasnya alam semesta tidak terhingga. Dalam perkembangannya, banyak ilmuwan yang menolak teori ini karena dianggap tidak relevan. Bahkan, teori keadaan tetap dianggap bertolak belakang dengan big bang theory.
Teori Osilasi
Sekitar 1948, Fred Hoyle juga mencetuskan teori osilasi (the oscillating theory). Teori ini dikenal juga dengan teori mengembang dan memampat. Inti dari teori osilasi adalah kemunculan alam semesta berasal dari siklus yang dimulai dengan massa mengembang, kemudian memampat. Teori ini di satu sisi menyetujui adanya ledakan seperti diungkap teori big bang. Di sisi lain, teori osilasi juga meyakini kebenaran teori keadaan tetap yang menyebut bahwa alam semesta tidak akan berakhir.
Berdasarkan teori osilasi, terbentuknya alam semesta diawali dengan massa mengembang karena adanya reaksi inti hidrogen. Saat massa mengembang inilah galaksi-galaksi mulai terbentuk. Perkiraan durasi berlangsungnya sangat lama, yaitu mencapai 30 miliar tahun. Setelahnya, galaksi yang terbentuk tersebut akan mulai redup dan memasuki tahap memampat. Tahap ini diawali dengan keluarnya pancaran panas yang sangat tinggi terlebih dahulu, kemudian terjadilah ekspansi. Siklus yang sama ini disebut akan terus berulang tanpa akhir.
Itulah 3 teori terbentuknya alam semesta yang populer di dunia sains. Hingga saat ini para ilmuwan masih meyakini teori dentuman besar (big bang theory) yang paling mendekati kebenaran. Namun, seperti yang kita ketahui, ilmu sains terus berkembang. Kira-kira akankah muncul teori baru yang nantinya kembali mengubah pandangan tentang misteri terbentuknya alam semesta?